SENIMAN RANTAOWan

I Wayan Pasek adalah salah satu seniman bali yang cukup berhasil dalam seni ukir. Saat ini bapak yang sering disapa pak pasek ini memiliki sebuah art shop di jalan Cekomaria Banjar Segare. Art shop ini dikelolanya sendiri dengan beberapa tenaga kerjanya. Tiap bulan bapak ini dapat mengantongi uang sebesar dua juta rupiah dari hasil usahanya ini.

Bapak Wayan Pasek merupakan orang asli bali yang lahir di Karangasem Abang Banjar Pidpid tanggal 14 Maret 1981. Beliau adalah anak dari pasangan Nengah Bacol dengan Ni Luh Munok yaitu istri kedua dari Nengah Bacol. Pak Pasek ini dibesarkan di tempat kelahirannya hingga beranjak remaja. Tamatan SD No.2 Pidpid tahun 1994 ini berpikir untuk merantau ke Denpasar dan berdikari disana. Akhirnya beliaupun merantau ke Denpasar setelah tamat dari SMP pada tahun 1997.

Kehidupan bapak Pasek di Denpasar tidak semudah orang lain. Perjalanan karir beliau pun seperti itu. Diawali saat beliau tamat dari SMP, Pak Pasek melanjutkan sekolahnya di SMKI Batubulan. Selama sekolah beliau tidak hanya berdiam diri. Beliau ikut membantu keuangan keluarganya dengan bekerja sebagai loper Koran. Saat itu beliau tinggal di Banjar Kapal Batubulan dan saat waktu senggang beliau juga membantu pekerjaan orang tuanya sebagai pengukir yang menerima pesanan ukiran dari berbagai kalangan. Usaha ukir yang merupakan warisan dari orang tuanya sendiri ini ditekuninya hingga tamat SMK pada tahun 2000.

Pada tahun 2005 bapak Wayan Pasek memulai merintis usahanya sebagai seniman ukir setelah menikah dengan gadis bali yang bernama Nengah Murtini kelahiran tanggal pada tahun 2003. Usaha yang beliau rintis di jalan Antasura ini ternyata tidak begitu membantu keuangan beliau. Usahanya bangkrut akibat sewa lokasi dan harga bahan baku meningkat dengan drastis. Selain itu orderan dari pihak pemesan juga berkurang. Walaupun demikian pak Wayan Pasek ini tidak putus asa, beliau terus berusaha dan berdoa. Akhirya pada tahun 2006 beliau merintis karirnya kembali yaitu dengan menerima orderan dari seorang pejabat untuk menyelesaikan rumah paras bali, gedong paras bali, dan sarana perlengkapannya hingga mencapai keuntungan seratus juta rupiah per bulan. Namun semua ini hanya berlangsung dalam satu tahun.

Hingga saat ini beliau masih menggeluti usahanya dan mengelola sebuah art shop di jalan Cekomaria Banjar Segare,yang dimana usaha inilah yang sangat menopang perekonomian keluarga I wayan pasek ,dan beliau mempunyai harapan kedepan mengenai seni di bali yaitu pemerintah bias membantu perkebangan seni yang ada di bali atau dengan mengadakan promosi-promosi ke luar daerah bali. kususnya yang di mana bali  sudah terkenal dengan seni budayanya namu pakta mengatakan bahwa seniman bali khususnya pada saat ini ia mengalami ke kawatiran yang sangat di rasa bagi semua kalanmgan seni di bali,yaitu denagn di rancangya undang-undang pornograpi disana saangat mengancam perkembangan seni di bali. beliau sebagai masiarakat seni mengharapkan perhatian dari intanmsi terkait agar seni di bali akan tetap di kenal di seluruh plosok nusantara.

sajak

cinta abadi

aku dan kau hanyalah insan yang tak ada artinya di dunia ini ,

ku hanya bisa ratapi cinta dan kasih ini,

seakan menjadikan suatu yang berguna ,

ku maknai hidupku dengan cinta ,dan dengan kekuranganku ku sadarkan hiduupku ,

yang tak kan murka denga kasih cintamu,

sepanjang hidupku ko selalu ada buatku ,

kulantunkan doa di setiap sisi kehidupanku ,

yang tak ku bisa ku maknai,

namun ku bisa rasakan bahwa itu cinta,

ku berharap.

sepanjang hidupku kan selalu membawakan kebahagian buatmu,

kao yang akan selalu menjadi tujuan hidupku ,

dan kau adalah orang yang menjadi penerang hidupku

mesti ku tak tau kau ada dimana ?

mengapa? dan

kapan?                                                                                   olh: mank ar

contoh pidato

Hadirin yang terhormat

Om suastiastu

Yang terhormat bakak rector ikip pgri yang kami muliakan dan ibuk  dosen berbicara 1 AA eka sriadi yang kami banggakan dan seluruh peserta yang kami hormati.padsa kesempatan ini saya akan menyampaikan pidato mengenai peran pendidikan  di kalangan remaja   masa kini

Adapun yang mendorong kami untuk  mengkaji lebih dalam mengenai  masalah ini yaitu karena seperti kita liat di kalangan masiarakat kita telah banyak para generasi yang   kurang mendapat ke adilan dari segi pendidikan yang terutama di daerah2 pedesaan yang lemah akan pendidikan karena keterbatasan perekonomian . dan kita tidak bias menuntut kemungkinaan  kalo paktor inilah yang  menjadi salah satu penyebab adanya seperti  kekerasan atau adanya pergaulan pergaulan yang tidak di inginkan seperti halnya adanya kriminalisasi dan bahkan adanya penggunaan obat2 terlarang seperti narkoba dan sebagainya . karena peran pendidikan di sni sangat berperan penting dalam rangka untuk   memanusiakan manusia

Hadirin yang berbahagya……………

seperti kita ketahui telah banyak generasi2 yang  menyia- nyiakan masa depanya karena tersangkut dengan pergaulan yang di hadapinya  maka dari  itu kita sebagai generasi yang mempunyai harapan dan cita2 untuk bangsa ini mari kita  berusaha dan melakukan yang terbaik buat diri kita dan bangsa ini  kedepan dengn membelajarkan diri yang di mana dengan pengetahuan kita kita bias berjalan kea rah yang lebih baik,  karena dengan pendidikan kita juga sangat menentukan masa depa kita.

seperti kita ketahui di Negara tercinta ini telah di publikasikan beberapa % dari generasi kita yang berada di bawah garis kemiskinan sehinga di tidak dapat menikmati  dunia pendidikan yang di mana bisa di dapat oleh kalangan kalangan tertentu  karena keterbatasan inilah kita biasa di hadapkan pada permasalahan seperti  pemakaian obat2 terlarang, minim2an keras dan  bahkan yang bersipat krimialisasi, nah pemicu dari hal tersebut terlihat karena adanya keterbatasan paktor pendidikan, perekonomian dan perhatian pemerintah begitu juga paktor lingkungan  maka dari itu disini sangat di perlukan peran pendidikan dan orang tua  yang bias mengkordinir dan dimana kita sebagai orang tuapun  bias memberikan pendekatann moral dan emosional , karena pergaulan bebas itu  tidak semata2 terjadi karena keterblakangan mental generasi kita tetapi juga karena adanya kesempatan dan waktu ,.

hadirin yang kami muliakan………

maka dari itu kami mengimbao semua instansi terkait untuk bias berupaya atau melakukan tindakan  yang sebagi mana mestiya untuk mengurangi angka kemiskina dan dan juga mengadakan pendekatan pendidikan untuk menekan  hal hal seperti itu di tanah air tercinta ini  karena bias kita lihat  pemicu utama darai  permasalahan seperti ini karan  lemahnya pendidikan yang di miliki oleh generasi kita, dan  kami mengharapkan  generasi kita ini  adalah generasi yang semestinya mampu membawa perubahan bangsa kea arah yang lebih baik , bagaimana aklao sekarang genesasi kita terhadang dengan permasalahn seperti ini maka masa depan bangsapun akan terancam .

mungkin kita lihat pemerintah kita sekarang ini sudah mengupayakan hal tersebut seperti kita ketahui belakangan ini sering kita lihat di adakanya penyuluhan di suatu suatu sekolah  tentang bahaya obat2 terlarang  di sana sangat mendukung penekatan angka pergaulan bebas di negeri ini  dan kita juga di perkenalkan dengan berbagai macam obat2 terlang tetapi dengan tujuanya kita biasa menghindarkan dari hal  hal tersebut. Karena orang yang sundah tercandu dengan obat obatan iseperti itu dia seakan akan hilang daya berpikirnya dan tidak mempunyai harapan kedepan . kalo sekarang semua generasi seperti itu bagaimana jadi nya masa depan bangsa ini karena bangsa kia sangat di tentukan oleh generasi2 kita. untuk itu dalam kesempatan ini kami mengajak semua instansi untuk ikut ambil bagian dalam pemberantasan pergaulan bebas dan penekanaan angka kemiskinan begitu juga dengan melakukan pendekatan pendidikan di kalangan remaja. Dengan demikian pidato pada malam hari ini kami tutup sampe di sini dan apa bila ada kata2  yang kurang berkenan di hati saudara saudarin  baik secara di sengaja atau tidak kami mohon maaf yang sebesar2nya dan  atas parisipasi saudara2 kami ucapkan banyak trima kasih akhir kata kami  ucapkan parame santhih

om santih santh santh om

contoh pormulir seminar

Pormulir laporan seminar

I.       Judul seminar    :   perlunya belajar multi bahsa sejak dini

II.      Tema seminar    :    dengan berbahasa kita mengenal dunia

sub tema            :

a). peran multi bahasa  dalam pendidikan untuk    menambah pengetahun mengenai dunia  luar

b) .pran serta multi bahasa untuk melahirkan generasi bangsa yang   berkompeten

c). multi bahasa dapat memperkokoh persatuan antar daerah dan Negara

III.       tujuan seminar

Seminar ini bertujuan untuk saling bertukar pikiran atau berbagai impormasi  yang erkaitan dengan pemeroleham multi bahasa di usia dini dan pentingnya pembelajaran multi bahasa di usia dini dalam rangka untuk mengembangkan kualitas generasi bangsa yang dan mengantisi pasi tantangan akan adanya krisis bahasa bagi generasi kita kedepan.

IV.       pokok-pokok permasalahan

Dalam kegiatan seminar ini ada beberapa topic yang akan di bawakan oleh pembicara kita  yaitu terkait  awal mula di rekomendasikan bahasa ibu oleh UNESCO,peranan multi bahasa dalam lingkungan masiarakat bangsa dan Negara , dan , hambatan yang di adapi generasi dalam pembelajaran multi bahasa .

  1. waktu penyelenggaraan

adapun waktu dan tempat akan di adakan  seminar ini  yaitu:

hari      :                       senin

tanggal            :           13 agustus 2010

lokasi   :           hotel candra .jl diponegoro

  1. penyelenggara

seminar ini di selenggarakan oleh  persatuan para himpunan mahaswa jurusan sastra Indonesia dan bekerjasama dengan dinas pendidikan propensi bali .

  1. Jumlah peserta

Dalam seminar ini di hadiri oleh peserta sebanyak 1000 orang  dari berbagai pihak:

  1. para dewan guru bahasa Indonesia se propensi bali
  2. para dosen sastra se bali
  3. mahasiswa program study bahasa Indonesia se bali
  4. meminat dan pemerhati bahasa Indonesia dan asing.
    1. jadwal acara

08.00-09.30 wit           registrasi peserta

09.30-10.30 wita         pembukaan

10.30-13.00wita          pemakalah I

13.00-14.00wita          diskusi

14.00-15.00wita          pemakalah II

15.00-16.00wita          diskusi

16.00-16.30wita          istirahat

16.30-17.30wita          bacakan simpulan dan penutup

  1. sumber biaya

adapun sumber biaya dari seminar yang  di lakukan ini adalah di peroleh dari penjualan tiket peserta serta berbagai iklan yang mendukung. Maka daya yang di persiapkan dalam menyelenggarakan seminar ini sebesar 165. 745.000

  1. hasil-hasil/ kesimpulan

adapun yang dapat kami simpulkan dalam seminar ini yaitu di dalam kita mengadapi perkembangan dunia ini maka kita sudah semestinya membekali hidup kita baik dri duni pendidikan atau pembelajaran terkait multi bahasa .

menyetujui                                                      denpasar…………………..

dinas pendidikan propensi bali                       ketua panitia penyelenggara

………………………………                        ……………………………….

SURAT PERMOHONAN TEMPAT

05 juli 2010

Kepada

Yth .rektorat IKIP PGRI bali

Jl. Seroja ,tonja

Denpasar

Dengan hormat

Dalam rangka memperingati hari sumpah pemuda 2009 , para jajaran masiarakat ,mahaswa dan dewan guru  akan menyelengarakan semiar  dengan judul “pentingnya pembelajaran multi bahasa sejak dini” guna bertujuan untuk membentuk generasi muda yang berkopeten di bidangya.

Seminar ini akan mengadakan kerjasama dengan berbagai pihak baik pihak local maupun interlokal yang di mana seminar ini juga akan di hadiri oleh mentri pendidikan republic Indonesia yang nantinya akan menjadi pembicara I ,dan selanjutnya sebagai pembicara II  yaitu mentri komunikasi republic Indonesia  dan di susul oleh  pembicara selanjutnya yaitu mentri luar negri untuk Indonesia sebanyak 8  negara .

Seminar ini akan di adakan pada tanggal 05 juli 2010 di gedung hotel candar di jl.doponegoro

Sehubungan dengan apa yang kami sampeakan  di atas ,dengan ini kami bermaksud mengundang  dua stap pembantu rektorat /dekan/ ketua jurusan /mahaswa program study jurusan bahasa dan sastra Indonesia/ untuk mewakili lembaga /departeme yang bapak pinpin.

Demikian surat ini ,besar harapan kami untuk bapak bisa hadir di dalam seminar nantinya  dan akhir kata kami ucapkan trimakasih.

Panitia seminar

I nyoman artana

SURAT UNDANGAN PEMAKALAH

Ref:

05 juli 2010

Kepada

Yth.rektorat IKIP PGRI bali

Jl.seroja, tonja

Denpasar

Dengan hormat

Dengan ini kami mengharapkan permaklumanya dari semua pihak berhubung seminar yang di rencanakan di adakan pada tanggal 05 juli 2010  di undur  menjadi tgl 08 juli 2010 karenya adanya beberapa paktor yang tidak mendukung di adakanya seminar pada tanggal yang bersangkutan  berhubung cuca yang tidak mendukung  serta adanya kesalahan teknis dari pihak penyelenggara dengan ini kami selaku ketua penyelenggara mohon permaklumanya dan bapak/ibuk/saudara bersedia hadir  di dalam seminar yang akan di laksanakan pada tgal 08juli 2010

Pembicara tamu dan pemandu seminar

Selaku pembicara yang akan hadir nantinya  di dalam seminar yang akan berlangsung yaiti mentri pendidikan republic Indonesia ,dan guru besar jurusan sastra  universitas udayana ,masing-masing akan memperdalam atau terkait pentingnya pembelajaran multi bahasa sejak dini,dan begitu juga sesi demi  sesi  akan di meriahkan dengan sesie Tanya jawab oleh para peserta baik dali kalangan mahaswa maupun masiarakat.

Target peserta

Target peserta adalah dewan guru pengajar se propensi bali daru guru sd/smp/sma/serta para dosen sastra  dan masiarakat pemerhati bahasa .
pendaptaran dan jadwal lokasi

peserta dapat mendaptar diri langsung  ke pusat balai bahasa propensi bali , dan pendaftaran di tutup tangal 01 juli 2010.

Seminar akan di adakan pada tanggal 08juli 2010 ,jam 08.00 bertempat di hotel candra  di jalan diponegoro.

Informasi lain

Peserta yang sudah mendaftarkan diri  sebelumya di mohon memberikan kompirmasi  atas kehadiranya .untuk impormasi lebih lengkap silahkkan menghubungi di no telpon: 036177443

Demikianlah yang dapat kami sampekan lewat surat ini dan bear harapan kami agar bapak/ibuk/saudara  bersedia hadir dalam seminar yang akmi adakan .

Panitia seminar

Inyoman artana

LEMBAR KOMUNIKASI

I.       Latar belakang

Seperti kita ketahui pembelajaran bahasa sanga t berperan bagi kehidupan di kalangan pelajar begitu juga di kalangan masiarakat  begitu juga usia anak juga adalah fase yang sangat peka di gunakan  belajar bahasa  .sesudah itu perkembangan  sentrum  pada otak kiri akan berkurang ,hal ini menepis pendapat banyak kalangan  bahwa anak yang di ajarkan bertutur  multi bahasa  bisa membuat kebingungan dan menyebabkan  keterlambatan perkembangan bahasa anak

Adauga mengatakan bahwa  kegaguan pada anak bisa di ebabkan  oleh tantangan multi bahasa  dan di klangan orang banyak bahwa pendapat itu tidak benar.

Penelitian yang pernah di lakukan oleh para pilosop bahasa mengatakan  apabila anak di ajarkan secara benar di dalam memperoleh multi bahasa  akan mengacu perkembangan anak secaara  keseluruhan dan dia akan terlatih menghubungkan  dengan bermacam-macam bahasa ,hal ini di sebabkan karena bahasa menjadi media  komunikasi  saat anak menjadi dewasa  dan memasuki dunia kerja

Sejak  1951 UNESCO Telah merekomendasikan   penggunaan bahasa ibu  sebagai penghantar pendidikan  selain menambah rasa aman bagi belita ,bahasa ibu juga  memelihara identitas  etnis dan juga meningkatkan  kepekaan linguistic  di seluruh dunia .komunitas yang memekai satu bahasa  hanya sekitar 13% .selbihnya ,palingtdak menggunakan dua bahasa .

Indonesia tidak termasuk dalam katagori 13% tersebut. Anak-anak pada umumnya di Indonesia menguasai  dua bahasa  yaitu bahsa Indonesia dan bahasa daerah ,hal ini adalah menjadi satu kelebihan danmenjadi dasar  untuk mempelajari bahasa asing  dengan lebih mudah namun yang harus di ingat  adalah konsep dan cara belajarnya  harus di lakukan dengan benar. Mungkin alasan atau paktor-paktor tersebut yang menjadi alasan atau dasar mengapa seminar ini perlu di adakan

II.      Judul seminar    :   perlunya belajar multi bahsa sejak dini

III.     Tema seminar    :    dengan berbahasa kita mengenal dunia

sub tema            :

a). peran multi bahasa  dalam pendidikan untuk    menambah pengetahun mengenai dunia  luar

b) .pran serta multi bahasa untuk melahirkan generasi bangsa yang   berkompeten

c). multi bahasa dapat memperkokoh persatuan antar daerah dan Negara

IV.       tujuan seminar

Seminar ini bertujuan untuk saling bertukar pikiran atau berbagai impormasi  yang erkaitan dengan pemeroleham multi bahasa di usia dini dan pentingnya pembelajaran multi bahasa di usia dini dalam rangka untuk mengembangkan kualitas generasi bangsa yang dan mengantisi pasi tantangan akan adanya krisis bahasa bagi generasi kita kedepan.

V.        pokok-pokok permasalahan

Dalam kegiatan seminar ini ada beberapa topic yang akan di bawakan oleh pembicara kita  yaitu terkait  awal mula di rekomendasikan bahasa ibu oleh UNESCO,peranan multi bahasa dalam lingkungan masiarakat bangsa dan Negara , dan , hambatan yang di adapi generasi dalam pembelajaran multi bahasa .

  1. waktu penyelenggaraan

adapun waktu dan tempat akan di adakan  seminar ini  yaitu:

hari      :                       senin

tanggal            :           13 agustus 2010

lokasi   :           hotel candra .jl diponegoro

  1. penyelenggara

seminar ini di selenggarakan oleh  persatuan para himpunan mahaswa jurusan sastra Indonesia dan bekerjasama dengan dinas pendidikan propensi bali .

  1. Jumlah peserta

Dalam seminar ini di hadiri oleh peserta sebanyak 1000 orang  dari berbagai pihak:

  1. para dewan guru bahasa Indonesia se propensi bali
  2. para dosen sastra se bali
  3. mahasiswa program study bahasa Indonesia se bali
  4. meminat dan pemerhati bahasa Indonesia dan asing.
    1. jadwal acara

08.00-09.30 wit           registrasi peserta

09.30-10.30 wita         pembukaan

10.30-13.00wita          pemakalah I

13.00-14.00wita          diskusi

14.00-15.00wita          pemakalah II

15.00-16.00wita          diskusi

16.00-16.30wita          istirahat

16.30-17.30wita          bacakan simpulan dan penutup

  1. sumber biaya

adapun sumber biaya dari seminar yang  di lakukan ini adalah di peroleh dari penjualan tiket peserta serta berbagai iklan yang mendukung. Maka daya yang di persiapkan dalam menyelenggarakan seminar ini sebesar 165. 745.000

  1. hasil-hasil/ kesimpulan

adapun yang dapat kami simpulkan dalam seminar ini yaitu di dalam kita mengadapi perkembangan dunia ini maka kita sudah semestinya membekali hidup kita baik dri duni pendidikan atau pembelajaran terkait multi bahasa .

PORMULIR PENDAFTARAN

Seminar regional                                  PENDAPTARAN dan PESERTA

PENTINGNYA  BELAJAR                             Formulir pendaptaran dapat di kirimkan ke

MULTiBAHASA DI  USIA                                               salah satu dari lembaga di bawah ini

DINI                                              1. kantor pusat Program studi pendidikan

Sastra IKIP PGRI  denpasar  jl.seroja ,

Tonja ,denpasar.

2.  kantor  fakultas bahasa dan sastra

Denpasar 08juli2010                                     indonesia  jl.akasia

PORMULIR PENDAFTARAN                         cara pembayaran:

Mohon di isi

Nama :………………………                         tunai (di bayar langsung  di

Pekerjaan:……………………                        bagian administrasi kantor

Jabatan:………………………                       pusat atau cabang IKIP PGRI,

Lembaga:……………………                                    bali

Tel/pax:……………………

Pilih cara pembayaran:                                    transfer melalui bang  BTN

Tunai                                                        cabang denpasar.no rekening

Transfer melalui bang                              062.182386389.112.atas nama

BTN cabang denpasar                                     yayasan IKIP PGRI bali

Seminar ini di selenggarakan atas kerjasama

Antara  dinas pendidikan propensi bali

Dan fakultas IKIP PGRI Bali jurusan bahasa dan sastra Indonesia

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

FAKULTAS PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI

Alamat:jalan seroja,tonja ,denpasar bali kode pos 80211 telpon(431434)

Denpasar 08 juli 2010

Nomor                  :  431/H51.32/PL/2010

Lampiran             :  1 eks

Prihal                    :  Upaya menerbitkan generasi muda yang berkopeten

Dengan pembelajaran multi bahasa

Kepada                 : yth. Ketua aliansi ke siswan jurusan bahasa dan sastra

Indonesia universitas pendidikan ganesa .

Dengan hormat,

Sehubungan dengan di peringati hari sumpah pemuda pada tanggal 28 oktober 2010 .aliansi kesiswaan IKIP PGRI bali akan mengadakan seminar tentang ke bahasaan yang ke 3 dengan judul pentingnya pembelajaran muli basa sejak kini, yang akan di selenggarakan pada:

Hari /tanggal        : senin 28 oktober 2010

Tempat                 : gedung hotel candra , jl .

Diponegoro-denpasar

Waktu             : 08.00wita –selesai

Dengan ini kami bermaksun mohon dukungan dari saudara guna untuk menyebarkan impormasi terkait dengan seminar yang akan kami lakukan baik kepada rektorat universitas pendidikan ganesa/anggota aliansi siswa universitas ganesa/ketua jurusan universitas ganesa/ rekan-rekan mahasiswa universitas pendidikan ganesa jurusan bahasa dan sastra Indonesia. Atas partisipasi saudara atau rekan-rekan mahasiwa kami acupkan trimakasih dan untuk mempermudah kami juga lampirkan brosurnya.

Mengetahui                                                    ketua  aliansi kesiswaan IKIP

Rektorat IKIP PGRI bali                               PGRI bali

Reda gunawan                                      I Nyoman artana

Nip 19019187

Tembusan   : rektorat universitas pendidikan ganesa

contoh proposal

PENGGUNAAN PENDEKATAN PRAGMATIK DALAM UPAYA MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERBICARA SMP. 1 ABANG, KARANASEM 2009/201O

OLEH:

INYOMAN ARTANA

JURUSAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI IKIP PGRI BALI

DENPASAR,2009

PRAKATA

Adapun yang mendorong kami untuk mengaji siswa untuk menggunakan pendekatan pragmantik untuk meningkatkan keterampilan berbicara bagi siswa SMP 1 ABANG  DI KARANGASEM. karena lemahnya siswa untuk menguasai hal itu maka dari atu di lakukan berbagai pendekatan guna untuk menyelaraskan keterampilan siswa untuk berbicara .dan di sini di tekankan dengan mengunakan berbagai pendekatan  yang bisa merangsang siswa untuk lebih memahami hal tersebut, dan guna untuk melahirkan generasi muda yang cerdas ,kritis,kreatip dan berbudaya .dan dalam keterampilan berbicara sangatlah berperan di kalangan masiarakat karena mereka memiliki kemampuan untuk mengekspresikan gagasan, pikiran, atau perasaan kepada orang lain secara runtut dan sistematis. Bahkan, keterampilan berbicara juga akan mampu melahirkan generasi masa depan yang berbudaya karena sudah terbiasa dan terlatih untuk berkomunikasi dengan pihak lain sesuai dengan konteks dan situasi tutur pada saat dia sedang berbicara.

DAPTAR ISI                                                                               halaman

Alaman sampul:………………………………………………………..

Prakata          : ……………………………………………………………

BAB I : pendahuluan

  1. 1. latar belakang………………………………………….
  2. 2. rumusan masalah………………………………………
  3. 3. tujuan penelitian ……………………………………….
  4. 4. mampaat penelitian…………………………………….

BAB II            :

5. kajian teori……………………………………………..

BAB III          :

  1. 6. metode penelitian ……………………………………..

6.1 .lokasi dan subjek penelitian………………………

6.2 Pemecahan masalah……………………………….

6.3 Rencana tindakan …………………………………

6.4 Tahap pelaksanaan ………………………………

6.5 6.5.cara pengumpulan data…………………………….

6.6 teknik analisis data…………………………………….

6.7 daptar pustaka…………………………………………

BAB I

PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG

Salah satu aspek keterampilan melahirkan generasi masa depan yang cerdas, kritis, kreatif, dan berbudaya adalah keterampilan berbicara. Dengan menguasai keterampilan berbicara, peserta didik akan mampu mengekspresikan pikiran dan perasaannya secara berbahasa yang sangat penting peranannya dalam upaya cerdas sesuai konteks dan situasi pada saat dia sedang berbicara. Keterampilan  yang komunikatif, jelas, runtut, dan mudah dipahami. Selain itu, keterampilan berbicara juga akan mampu kreatif sehingga mampu melahirkan tuturan atau ujaran yang melahirkan generasi masa depan yang kritis karena mereka memiliki kemampuan untuk mengekspresikan berbicara juga akan mampu membentuk generasi masa depan dengan  gagasan, pikiran, atau perasaan kepada orang lain secara runtut dan sistematis. Bahkan, keterampilan berbicara juga akan mampu melahirkan generasi masa depan yang berbudaya karena sudah terbiasa dan terlatih untuk berkomunikasi dengan pihak lain sesuai dengan konteks dan situasi tutur pada saat dia sedang berbicara Namun, harus diakui secara jujur, keterampilan berbicara di kalangan siswa SMP, khususnya keterampilan berbicara, belum seperti yang diharapkan. Kondisi ini tidak lepas dari proses pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah yang dinilai telah gagal dalam membantu siswa terampil berpikir dan berbahasa sekaligus. Yang lebih memprihatinkan, ada pihak yang sangat ekstrim berani mengatakan bahwa tidak ada mata pelajaran Bahasa Indonesia pun siswa dapat berbahasa Indonesia seperti saat ini, asalkan mereka diajari berbicara, membaca, dan menulis oleh guru (Depdiknas 2004:9).

Sementara itu, hasil observasi empirik di lapangan juga menunjukkan fenomena yang hampir sama. Keterampilan berbicara siswa SMP berada pada tingkat yang rendah; diksi (pilihan kata)-nya payah, kalimatnya tidak efektif, struktur tuturannya rancu, alur tuturannya pun tidak runtut dan kohesif.

Demikian juga keterampilan berbicara siswa kelas VII-A SMPN 1 ABANG DI KARANGASEM. Berdasarkan hasil observasi, hanya 20% (8 siswa) dari 40 siswa yang dinilai sudah terampil berbicara dalam situasi formal di depan kelas. Indikator yang digunakan untuk mengukur keterampilan siswa dalam berbicara, di antaranya kelancaran berbicara, ketepatan pilihan kata (diksi), struktur kalimat, kelogisan (penalaran), dan kontak mata.

Paling tidak, ada dua faktor yang menyebabkan rendahnya tingkat keterampilan siswa dalam berbicara, yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Yang termasuk faktor eksternal, di antaranya pengaruh penggunaan bahasa Indonesia di lingkungan keluarga dan masyarakat. Dalam proses komunikasi sehari-hari, banyak keluarga yang menggunakan bahasa ibu (bahasa daerah) sebagai bahasa percakapan di lingkungan keluarga. Demikian juga halnya dengan penggunaan bahasa Indonesia di tengah-tengah masyarakat. Rata-rata bahasa ibulah yang digunakan sebagai sarana komunikasi. Kalau ada tokoh masyarakat yang menggunakan bahasa Indonesia, pada umumnya belum memperhatikan kaidah-kaidah berbahasa secara baik dan benar. Akibatnya, siswa tidak terbiasa untuk berbahasa Indonesia sesuai dengan konteks dan situasi tutur

Dari faktor internal, pendekatan pembelajaran, metode, media, atau sumber pembelajaran yang digunakan oleh guru memiliki pengaruh yang cukup signifikan terhadap tingkat keterampilan berbicara bagi siswa SMP. Pada umumnya, guru bahasa Indonesia cenderung menggunakan pendekatan yang konvensional dan miskin inovasi sehingga kegiatan pembelajaran keterampilan berbicara berlangsung monoton dan membosankan. Para peserta tidak diajak untuk belajar berbahasa, tetapi cenderung diajak belajar tentang bahasa. Artinya, apa yang disajikan oleh guru di kelas bukan bagaimana siswa berbicara sesuai konteks dan situasi tutur, melainkan diajak untuk mempelajari teori tentang berbicara. Akibatnya, keterampilan berbicara hanya sekadar melekat pada diri siswa sebagai sesuatu yang rasional dan kognitif belaka, belum manunggal secara emosional dan afektif. Ini artinya, rendahnya keterampilan berbicara bisa menjadi hambatan serius bagi siswa untuk menjadi siswa yang cerdas, kritis, kreatif, dan berbudaya

Dalam beberapa penelitian ditemukan bahwa pengajaran bahasa Indonesia telah menyimpang jauh dari misi sebenarnya. Guru lebih banyak berbicara tentang bahasa (talk about the language) daripada melatih menggunakan bahasa (using language). Dengan kata lain, yang ditekankan adalah penguasaan tentang bahasa (form-focus). Guru bahasa Indonesia lebih banyak berkutat dengan pengajaran tata bahasa, dibandingkan mengajarkan kemampuan berbahasa Indonesia secara nyata (nurhadi 2000)

Jika kondisi pembelajaran semacam itu dibiarkan berlarut-larut, bukan tidak mungkin keterampilan berbicara di kalangan siswa SMP akan terus berada pada aras yang rendah. Para siswa akan terus-menerus mengalami kesulitan dalam mengekspresikan pikiran dan perasaannya secara lancar, memilih kata (diksi) yang tepat, menyusun struktur kalimat yang efektif, membangun pola penalaran yang masuk akal, dan menjalin kontak mata dengan pihak lain secara komunikatif dan interaktif pada saat berbicara.

Dalam konteks demikian, diperlukan pendekatan pembelajaran keterampilan berbicara yang inovatif dan kreatif, sehingga proses pembelajaran bisa berlangsung aktif, efektif, dan menyenangkan. Siswa tidak hanya diajak untuk belajar tentang bahasa secara rasional dan kognitif, tetapi juga diajak untuk belajar dan berlatih dalam konteks dan situasi tutur yang sesungguhnya dalam suasana yang dialogis, interaktif, menarik, dan menyenangkan. Dengan cara demikian, siswa tidak akan terpasung dalam suasana pembelajaran yang kaku, monoton, dan membosankan. Pembelajaran keterampilan berbicara pun menjadi sajian materi yang selalu dirindukan dan dinantikan oleh siswa.

Penelitian ini akan difokuskan pada upaya untuk mengatasi faktor internal yang diduga menjadi penyebab rendahnya tingkat kemampuan siswa klas VII-A SMPN 1 ABANG, KARANGASEM, dalam berbicara, yaitu kurangnya inovasi dan kreativitas guru dalam menggunakan pendekatan pembelajaran sehingga kegiatan pembelajaran keterampilan berbicara berlangsung monoton dan membosankan. Salah satu pendekatan pembelajaran yang diduga mampu mewujudkan situasi pembelajaran yang kondusif; aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan adalah pendekatan pragmatik. Melalui pendekatan pragmatik, siswa diajak untuk berbicara dalam konteks dan situasi tutur yang nyata dengan menerapkan prinsip pemakaian bahasa secara komprehensif.

Dalam pendekatan pragmatik, guru berusaha memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan keterampilan berbahasa di dalam konteks nyata dan situasi yang kompleks. Guru juga memberikan pengalaman kepada siswa melalui pembelajaran terpadu dengan menggunakan proses yang saling berkaitan dalam situasi dan konteks komunikasi alamiah senyatanya.

Prinsip-prinsip pemakaian bahasa yang diterapkan dalam pendekatan pragmatik, yaitu (1) penggunaan bahasa dengan memperhatikan aneka aspek situasi ujaran; (2) penggunaan bahasa dengan memperhatikan prinsip-prinsip kesantunan; (3) penggunaan bahasa dengan memperhatikan prinsip-prinsip kerja sama; dan (4) penggunaan bahasa dengan memperhatikan faktor-faktor penentu tindak komunikatif

Melalui prinsip-prinsip pemakaian bahasa semacam itu, pendekatan pragmatik dalam pembelajaran keterampilan berbicara diharapkan mampu membawa siswa ke dalam situasi dan konteks berbahasa yang sesungguhnya sehingga keterampilan berbicara mampu melekat pada diri siswa sebagai sesuatu yang rasional, kognitif, emosional, dan afektif.

Melalui penggunaan pendekatan pragmatik dalam pembelajaran keterampilan berbicara, para siswa SMP akan mampu menumbuhkembangkan potensi intelektual, sosial, dan emosional yang ada dalam dirinya, sehingga kelak mereka mampu berkomunikasi dan berinteraksi sosial secara matang, arif, dan dewasa. Selain itu, mereka juga akan terlatih untuk mengemukakan gagasan dan perasaan secara cerdas dan kreatif, serta mampu menemukan dan menggunakan kemampuan analitis dan imajinatif yang ada dalam dirinya dalam menghadapi berbagai persoalan yang muncul dalam kehidupan sehari-hari.

Yang tidak kalah penting, para siswa juga akan mampu berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis, mampu menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara, serta mampu memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan

2. PERUMUSAN  MASALAH

2.1 Langkah-langkah apa saja yang perlu dilakukan dalam menggunakan pendekatan pragmatik dalam pembelajaran keterampilan berbicara bagi siswa SMP?

2.2 Apakah penggunaan pendekatan pragmatik dalam pembelajaran bahasa Indonesia dapat meningkatkan keterampilan berbicara bagi siswa SMP?

3. TUJUAN PENELITIAN

3.1 untuk mengidentifikasi langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam menggunakan pendekatan pragmatik dalam pembelajaran keterampilan berbicara bagi siswa SMP;

3.2 untuk memaparkan hasil keterampilan berbicara siswa SMP setelah pendekatan pragmatik digunakan dalam kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia.

4. MAMPAAT PENELITIAN

Hasil yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

4.1 Para guru bahasa Indonesia dapat mengetahui langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam menggunakan pendekatan pragmatik dalam pembelajaran keterampilan berbicara, khususnya bagi siswa SMP;

4.2 Keterampilan berbicara siswa kelas VII-A SMPN I ABANG, karangasem, yang menjadi subjek penelitian ini mengalami peningkatan yang signifikan;

4.3 Para guru bahasa Indonesia SMP diharapkan menggunakan pendekatan pragmatik dalam menyajikan aspek keterampilan berbicara, bahkan guru bahasa Indonesia di tingkat satuan pendidikan yang lebih rendah, seperti SD, atau yang lebih tinggi, seperti SMA/SMK/MA, diharapkan juga menggunakan hasil penelitian ini dalam upaya melakukan inovasi pembelajaran Bahasa Indonesia.

BAB II

5. KAJIAN TEORI

Untuk mengkaji penggunaan pendekatan pragmatik dalam meningkatkan keterampilan berbicara bagi siswa SMP digunakan teori yang berkaitan dengan keterampilan berbicara dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMP dan teori yang berkaitan dengan pendekatan pragmatik sebagai inovasi tindakan yang dilakukan dalam upaya meningkatkan keterampilan berbicara bagi siswa SMP.

5.1 Keterampilan berbicara dalam Mata Pelajaran Bahasa Indonesia di SMP Saat ini, arah pembinaan bahasa Indonesia di sekolah dituangkan dalam tujuan pengajaran bahasa Indonesia yang secara eksplisit dinyatakan dalam kurikulum. Secara garis besar, tujuan utama pengajaran bahasa Indonesia adalah agar anak-anak dapat berbahasa Indonesia dengan baik. Itu berarti agar anak-anak mampu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis dengan baik menggunakan media bahasa Indonesia (Samsuri, 1987 dan Sadtono, 1988).

Melalui harapan tersebut, pengajaran bahasa Indonesia dikelola agar anak-anak memiliki keterampilan-keterampilan praktis berbahasa Indonesia, seperti

  1. Menulis laporan ilmiah atau laporan perjalanan
  2. Membuat surat lamaran pekerjaan
  3. Berbicara di depan umum atau berdiskusi
  4. Berpikir kritis dan kreatif dalam membaca
  5. Membuat karangan-karangan bebas untuk majalah, koran, surat-surat pembaca, brosur-brosur, dan sebagainya. Apa pun bahan atau aturan-aturan bahasa yang diberikan kepada anak-anak, dimaksudkan untuk mencapai tujuan-tujuan praktis semacam itu

Dalam lampiran Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi

untuk Satuan Pendidikan Dasar Dan Menengah, khususnya tentang standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran Bahasa Indonesia SMP/MTs secara eksplisit dinyatakan bahwa bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional peserta didik dan merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi. Pembelajaran bahasa diharapkan membantu peserta didik mengenal dirinya, budayanya, dan budaya orang lain, mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut, dan menemukan serta menggunakan kemampuan analitis dan imaginatif yang ada dalam dirinya.

Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan manusia Indonesia. Standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, keterampilan berbahasa, dan sikap positif terhadap bahasa dan sastra Indonesia. Standar kompetensi ini merupakan dasar bagi peserta didik untuk memahami dan merespon situasi lokal, regional, nasional, dan global.

Dengan standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia semacam itu diharapkan:

  1. Peserta didik dapat mengembangkan potensinya sesuai dengan kemampuan, kebutuhan, dan minatnya, serta dapat menumbuhkan penghargaan terhadap hasil karya kesastraan dan hasil intelektual bangsa sendiri;
  2. Guru dapat memusatkan perhatian kepada pengembangan kompetensi bahasa peserta didik

dengan menyediakan berbagai kegiatan berbahasa dan sumber belajar;

  1. Guru lebih mandiri dan leluasa dalam menentukan bahan ajar kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah dan kemampuan peserta didiknya;
  2. Orang tua dan masyarakat dapat secara aktif terlibat dalam pelaksanaan program kebahasaan dan kesastraan di sekolah;
  3. Sekolah dapat menyusun program pendidikan tentang kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan

Adapun tujuan mata pelajaran Bahasa Indonesia adalah agar peserta didik memiliki kemampuan:

  1. berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis;
  2. menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara;
  3. memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan;
  4. menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, serta kematangan emosional dan sosial;
  5. menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi

pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa;

  1. menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia. Sedangkan, ruang lingkup mata pelajaran Bahasa Indonesia mencakupi komponen- kemampuan berbahasa dan kemampuan bersastra yang meliputi aspek-aspek:

(1) mendengarkan;

(2) berbicara;

(3) membaca; dan

(4) menulis

Berdasarkan pernyataan tersebut dapat ditegaskan bahwa keterampilan berbicara merupakan salah salah satu aspek kemampuan berbahasa yang wajib dikembangkan di SMP. Keterampilan berbicara memiliki posisi dan kedudukan yang setara dengan aspek keterampilan mendengarkan, membaca, dan menulis.

Sementara itu, standar kompetensi dan kompetensi dasar keterampilan berbicara dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMP/MTs kelas VII semester berdasarkan Standar Isi dalam lampiran Peraturan Mendiknas Nomor 22/2006 Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Keterampilan Berbicara Mata Pelajaran Bahasa Indonesia SMP/MTs Kelas VII Semester I Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Berbicara

2. Mengungkapkan pengalaman dan informasi melalui kegiatan berbicara dan menyampaikan pengumuman

2.1 Menceritakan pengalaman yang paling mengesankan dengan menggunakan pilihan kata dan kalimat efektif

2.2. Menyampaikan pengumuman dengan intonasi yang tepat serta menggunakan kalimat-kalimat yang lugas dan sederhana

Berdasarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar tersebut dapat disimpulkan bahwa pada semester I, siswa kelas VII SMP diharapkan mampu mengembangkan dua kompetensi dasar, yaitu:

(1) menceritakan pengalaman yang paling mengesankan dengan menggunakan pilihan kata dan kalimat efektif; dan

(2) menyampaikan pengumuman dengan intonasi yang tepat serta menggunakan kalimat-kalimat yang lugas dan sederhana. Penelitian ini akan difokuskan pada upaya untuk mengembangkan kompetensi dasar siswa kelas VII semester I dalam menceritakan pengalaman yang paling mengesankan dengan menggunakan pilihan kata dan kalimat efektif

Namun, secara jujur harus diakui bahwa pembelajaran Bahasa Indonesia di SMP belum berlangsung seperti yang diharapkan. Pembelajaran Bahasa Indonesia lebih cenderung bersifat teoretis dan kognitif daripada mengajak siswa untuk belajar berbahasa Indonesia dalam konteks dan situasi yang nyata. Akibatnya, apa yang diperoleh siswa di kelas dalam pembelajaran Bahasa Indonesia tidak bisa diterapkan secara praktis dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, pembelajaran Bahasa Indonesia terlepas dari konteks pengalaman dan lingkungan siswa. Hal ini bisa menimbulkan dampak yang cukup serius terhadap keterampilan siswa dalam menggunakan bahasa Indonesia dalam peristiwa dan konteks komuF. Metode Penelitian

Penelitian ini dimulai dengan melakukan identifikasi masalah atau refleksi awal terhadap rendahnya tingkat keterampilan berbicara siswa kelas VII-A SMP N 1 abang karangasem. Berdasarkan refleksi awal ditemukan penyebab rendahnya tingkat keterampilan berbicara siswa kelas VII-A SMP Negeri 1 abang karangasem, yaitu penggunaan pendekatan pembelajaran yang tidak mampu membawa siswa ke dalam situasi penggunaan bahasa secara nyata atau terlepas dari konteks dan situasi tuturan. Akibatnya, proses pembelajaran berlangsung monoton dan membosankan. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan pembelajaran yang diduga mampu membawa siswa ke dalam situasi penggunaan bahasa secara nyata sehingga siswa memperoleh manfaat praktis untuk diterapkan dalam peristiwa komunikasi seharihari. Berdasarkan penggunaan pendekatan pragmatik yang ditawarkan sebagai solusi, dirumuskan masalah yang akan diteliti, yaitu:

  1. Langkah-langkah apa saja yang perlu dilakukan dalam menggunakan pendekatan pragmatik dalam pembelajaran keterampilan berbicara bagi siswa SMP; dan
  2. Apakah penggunaan pendekatan pragmatik dalam pembelajaran Bahasa Indonesia dapat meningkatkan keterampilan berbicara bagi siswa SMP

BAB III

6. METODE PENELITIAN

Penelitian ini dimulai dengan melakukan identifikasi masalah atau refleksi awal terhadap rendahnya tingkat keterampilan berbicara siswa kelas VII-A SMP Negeri 1 ABANG KARANGASASEM. Berdasarkan refleksi awal ditemukan penyebab rendahnya tingkat keterampilan berbicara siswa kelas VII-A SMP Negeri 1 ABANG KARANGASEM, yaitu penggunaan pendekatan pembelajaran yang tidak mampu membawa siswa ke dalam situasi penggunaan bahasa secara nyata atau terlepas dari konteks dan situasi tuturan. Akibatnya, proses pembelajaran berlangsung monoton dan membosankan. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan pembelajaran yang diduga mampu membawa siswa ke dalam situasi penggunaan bahasa secara nyata sehingga siswa memperoleh manfaat praktis untuk diterapkan dalam peristiwa komunikasi seharihari. Berdasarkan penggunaan pendekatan pragmatik yang ditawarkan sebagai solusi, dirumuskan masalah yang akan diteliti, yaitu:

  1. Langkah-langkah apa saja yang perlu dilakukan dalam menggunakan pendekatan pragmatik dalam pembelajaran keterampilan berbicara bagi siswa SMP; dan
  2. Apakah penggunaan pendekatan pragmatik dalam pembelajaran Bahasa Indonesia dapat meningkatkan keterampilan berbicara bagi siswa SMP

Selanjutnya, dirumuskan tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini, yaitu:

  1. untuk mengidentifikasi langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam menggunakan pendekatan pragmatik dalam pembelajaran keterampilan berbicara bagi siswa SMP; dan untuk memaparkan hasil keterampilan berbicara siswa SMP setelah pendekatan pragmatic digunakan dalam kegiatan pembelajaran Bahasa Indonesia.

Berdasarkan hasil pelaksanaan tindakan dan observasi, dilakukan analisis data yang diperoleh dari hasil keterampilan berbicara siswa klas VIIA SMP Negeri 1 abang ,karangasem. Data tersebut dibandingkan dengan indikator keberhasilan penggunaan pendekatan pragmatik, yaitu 70% (24 siswa) dari 40 siswa klas VII-A SMP Negeri 1 abang karangasem , terampil berbicara berdasarkan aspek kelancaran berbicara, ketepatan pilihan kata (diksi), struktur kalimat, kelogisan (penalaran), dan kontak mata. Bersama kolaborator, peneliti melakukan refleksi terhadap hasil analisis data. Jika hasil analisis data belum menunjukkan hasil yang signifikan, dilakukan refleksi untuk memperbaiki langkah-langkah yang perlu dilakukan pada siklus berikutnya.

Langkah selanjutnya adalah menyusun replanning (rencana tindakan) untuk siklus II berdasarkan hasil refleksi yang dilakukan bersama kolaborator. Pada siklus II, peneliti melakukan tindakan sesuai dengan replanning yang telah disusun dengan melibatkan kolaborator untuk mengamati efektivitas pelaksanaan tindakan. Selanjutnya, dilakukan analisis terhadap data keterampilan berbicara

siswa klas VII-A SMP Negeri 1 abang, karangasem . dibandingkan dengan indikator keberhasilan untuk direfleksi bersama kolaborator. Jika hasilnya belum signifikan, dilakukan replanning untuk siklus III. Jika penggunaan pendekatan pragmatik sudah menunjukkan hasil yang signifikan dengan indikator

keberhasilan, tidak perlu dilanjutkan ke siklus berikutnya. Ini artinya, penggunaan pendekatan pragmatik dapat meningkatkan keterampilan berbicara siswa SMP seperti yang telah dirumuskan dalam hipotesis tindakan.

6.1. Lokasi dan Subjek Penelitian

Lokasi penelitian adalah SMP Negeri 1 abang karangasem. Subjek penelitian adalah siswa kelas VII-A SMPN 1 abang karangasem. yang terdiri atas 40 siswa, dengan rincian 18 siswa laki-laki dan 22 siswa perempuan.

6.2 Pemecahan Masalah

Seperti telah peneliti kemukakan bahwa masalah yang diteliti dalam penelitian ini adalah rendahnya tingkat keterampilan berbicara, khususnya keterampilan siswa kelas VII-A SMP Negeri 1 abang karangasem , dalam menceritakan pengalaman yang paling mengesankan dengan pilihan kata yang tepat dan kalimat yang efektif.

Berdasarkan hasil identifikasi masalah dan refleksi awal, siswa kelas VII-A SMP Negeri 1 abang karangasem yang dinilai sudah mampu menceritakan pengalaman yang paling mengesankan dengan menggunakan pilihan kata dan kalimat efektif baru sekitar 20% (8 siswa) dari 40 siswa. Data ini masih jauh dari standar ketuntasan belajar minimal secara nasional, yaitu 75%.

Materi pembelajaran berseumber dari standar isi dalam lampiran Peraturan Mendiknas No. 22/2006 tentang standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran Bahasa Indonesia SMP seperti pada tabel 7.1 berikut ini. Tabel 7.2 Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Menceritakan .

Pengalaman yang Paling Mengesankan dengan Menggunakan Pilihan Kata dan Kalimat Efektif

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Berbicara

.6.2.1 Mengungkapkan pengalaman dan informasi melalui kegiatan berbicara dan menyampaikan pengumuman

6.2.1.2 Menceritakan pengalaman yang paling mengesankan dengan menggunakan pilihan kata dan kalimat efektif.

Masalah rendahnya tingkat keterampilan siswa dalam menceritakan pengalaman yang paling mengesankan dengan menggunakan pilihan kata dan kalimat efektif akan dipecahkan dengan menggunakan pendekatan pragmatik melalui enam langkah, antara lain sebagai berikut:

6.2.1.2.1 Siswa memilih dan mencatat pengalaman mengesankan yang ingin diceritakan.

6.2.1.2.2 Siswa mencatat identitas penutur dan mitra tutur, yaitu orang-orang yang terlibat dalam pengalaman yang akan diceritakan.

6.2.1.2.3 Siswa mencatat konteks tuturan, yaitu latar belakang pengetahuan yang dimiliki penutur dan mitra tutur.

6.2.1.2.4 Siswa mencatat tujuan tuturan, yaitu apa yang ingin dicapai oleh penutur berdasarkan pengalaman yang akan diceritakan.

6.2.1.2.5 Siswa bertindak tutur melalui wujud tindakan verbal berdasarkan hal-hal yang telah dicatat sebelumnya. Bentuk tindakan verbal berupa tindak tutur yang dihasilkan oleh alat ucap, berupa kata-kata dan kalimat.

6.2.1.2.6 Siswa bertindak tutur melalui wujud tindakan nonverbal untuk memperjelas tindakan verbal yang telah dilakukan. Tindakan nonverbal berupa tindak tutur yang dihasilkan melalui kontak mata, mimik, gerak tangan, atau gerak anggota badan yang lain. Secara garis besar, alur penggunaan pendekatan pragmatik yang digunakan untuk memecahkan masalah rendahnya tingkat keterampilan siswa kelas VII-A SMP 1 ABANG KARANGASEM

Melalui alur penggunaan pendekatan pragmatik tersebut, siswa diharapkan dapat menceritakan pengalaman yang mengesankan dengan menggunakan pilihan kata yang tepat dan kalimat yang efektif sesuai konteks dan situasi tutur. Artinya, pilihan kata dan struktur kalimat yang digunakan dalam berbicara sangat ditentukan oleh konteks dan situasi tutur yang telah ditentukan oleh siswa. Pendekatan ini memberikan keleluasaan kepada siswa untuk memilih dan menentukan pengalaman yang hendak diceritakan, sedangkan guru hanya memberikan rambu-rambu sebagai pedoman bagi siswa dalam berbicara.

6.3 Rencana Tindakan

Rencana tindakan yang akan dilakukan dalam menggunakan pendekatan pragmatik untuk meningkatkan kemampuan siswa kelas VII-A SMP Negeri 1 abang karangasem,dalam menceritakan pengalaman yang paling mengesankan dengan pilihan kata dan kalimat yang efektif, antara lain sebagai berikut.

6.3.1

Guru menyusun silabus berdasarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar keterampilan berbicara mata pelajaran Bahasa Indonesia SMP Kelas VII semester I seperti yang tercantum dalam Standar Isi (lampiran Permendiknas No. 22/2006). Dalam silabus dicantumkan nama sekolah, identitas mata pelajaran (nama mata pelajaran, kelas/semester, komponen, aspek, dan standar kompetensi), kompetensi dasar, materi pokok, kegiatan belajar, indikator, penilaian (teknik, bentuk, dan contoh instrumen), alokasi waktu, dan sumber/media belajar.

6.3.2

Guru mengembangkan silabus Menjadi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang memuat komponen: nama sekolah, identitas mata pelajaran (nama mata pelajaran, kelas/semester, komponen, aspek, standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, alokasi waktu), tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, metode pembelajaran, langkahlangkah kegiatan pembelajaran, sumber belajar, penilaian dan pedoman penilaian………….

6.4 Tahap Pelaksanaan

Tahap-tahap yang dilakukan pada tahap pelaksanaan tindakan terinci sebagai berikut.

6.4.1 Tahap Persiapan Tindakan

Pada tahap persiapan tindakan, peneliti yang sekaligus sebagai guru menyiapkan silabus, RPP, instrumen, sumber belajar, dan media belajar yang digunakan untuk mendukung efektivitas pelaksanaan tindakan.

6.4.2 Pelaksanaan Tindakan

Pada tahap pelaksanaan tindakan, peneliti melaksanakan tindakan sesuai rencana yang tersusun dalam RPP. Secara garis besar, tindakan yang dilaksanakan pada setiap siklus sesuai dengan yang tersusun dalam RPP antara lain sebagai berikut.

6.4.2.1 Tindakan Awal

6.4.2.1.1

Apersepsi: peneliti mengaitkan materi pembelajaran tentang dengan pengalaman siswa.

6.4.2.1.2

Motivasi: peneliti memberikan motivasi kepada siswa agar gemar menceritakan pengalaman yang mengesankan kepada orang lain.

6.4.2.2Tindakan Inti

6.4.2.2.1

Siswa menyimak contoh cerita pengalaman yang mengesankan yang disampaikan oleh peneliti.

6..4.2.2.2

Siswa melakukan tanya jawab dengan guru dan teman sekelas untuk menentukan langkah-langkah menceritakan pengalaman mengesankan berdasarkan contoh cerita yang disimak.

6..4.2.2.3

Siswa memilih dan mencatat pengalaman mengesankan yang ingin diceritakan.

6..4.2.2.4

Siswa mencatat identitas penutur dan mitra tutur, yaitu orang-orang yang terlibat dalam pengalaman yang akan diceritakan.

6..4.2.2.5

Siswa mencatat konteks tuturan, yaitu latar belakang pengetahuan yang dimiliki penutur dan mitra tutur.

6..4.2.2.6

Siswa mencatat tujuan tuturan, yaitu apa yang ingin dicapai oleh penutur berdasarkan pengalaman yang akan diceritakan.

6..4.2.2.7

Siswa bertindak tutur melalui wujud tindakan verbal berdasarkan halhal yang telah dicatat sebelumnya.

6..4.2.2.8

Siswa bertindak tutur melalui wujud tindakan nonverbal untuk memperjelas tindakan verbal yang telah dilakukan.

6.4.2.3Tindakan Akhir

6..4.2.3.1

Siswa bersama peneliti menyimpulkan cara menceritakan pengalaman mengesankan dengan pilihan kata yang tepat dan kalimat yang efektif.

6..4.2.3.2

Siswa bersama peneliti melakukan refleksi untuk mengetahui kesan siswa ketika menceritakan pengalaman yang mengesankan dengan menggunakan pendekatan prgmatik.

6.4.3 Pelaksanaan Pengamatan

Ketika peneliti melaksanakan tindakan, anggota peneliti sebagai kolaborator melakukan pengamatan terhadap situasi yang terjadi selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Hal-hal yang perlu diamati dan dicatat oleh kolaborator dalam lembar observasi, di antaranya:

  1. respon siswa,
  2. perubahan yang terjadi selama proses pembelajaran;
  3. keterampilan guru dalam menggunakan pendekatan pragmatik, baik dalam tindakan awal, tindakan inti, maupun tindakan akhir; dan
  4. kesesuaian antara rencana dan implementasi tindakan.

6.4.4 Analisis dan Refleksi

Pada tahap ini, peneliti menganalisis data yang diperoleh berdasarkan unjuk kerja yang dilakukan siswa ketika menceritakan pengalaman yang mengesankan dengan pilihan kata dan kalimat yang efektif. Unsur-unsur yang dianalisis, yaitu kelancaran berbicara, ketepatan pilihan kata, keefektifan kalimat, kelogisan penalaran, dan kemampuan menjalin kontak mata. Berdasarkan hasil analisis data akan diketahui unsur-unsur mana saja yang masih menjadi hambatan siswa dalam menceritakan pengalamannya yang mengesankan.

Hasil analisis data tersebut juga sangat penting dan berharga sebagai bahan untuk melakukan refleksi bersama kolaborator. Pada saat melakukan refleksi, kolaborator memberikan masukan kepada peneliti berdasarkan hasil pengamatan yang telah dicatat untuk melakukan langkah-langkah perbaikan pada siklus berikutnya.

Penelitian tidak perlu dilakukan lagi pada siklus berikutnya jika hasil analisis data menunjukkan pengingkatan yang signifikan sesuai dengan indikator keberhasilan penelitian yang telah ditetapkan, yaitu 70% (28 siswa) dari 40 siswa klas VII-A SMP Negeri 1 abang karangasem  terampil berbicara berdasarkan aspek kelancaran berbicara, ketepatan pilihan kata (diksi), struktur kalimat, kelogisan (penalaran), dan kontak mata.

6.5 Cara Pengumpulan Data

Untuk memperoleh data yang valid, data dikumpulkan melalui cara/teknik berikut ini:

6.5.1Tes

Teknik tes digunakan untuk mengetahui tingkat keterampilan siswa dalam menceritakan pengalaman yang mengesankan kepada orang lain. Aspek-aspek yang dinilai, yaitu kelancaran berbicara, ketepatan pilihan kata (diksi), struktur kalimat, kelogisan (penalaran), dan kontak mata.

6.5.2 Nontes

Teknik nontes yang digunakan dalam penelitian ini, antara lain sebagai berikut:

6.5.2.1 Observasi (pengamatan): teknik ini digunakan oleh kolaborator untuk mengobservasi pelaksanaan tindakan yang dilakukan oleh peneliti.

6.5.2.2 Wawancara: teknik ini digunakan oleh peneliti dan kolaborator untuk mengetahui respon siswa secara langsung dalam berbicara dengan menggunakan pendekatan pragmatik. Wawancara terutama dilakukan kepada siswa yang menonjol karena kelebihan atau kekurangannya. Pelaksanaan wawancara dilakukan di luar kegiatan pembelajaran dengan menggunakan pedoman wawancara.

6.5.2.3Jurnal: teknik ini digunakan oleh peneliti setiap kali selesai mengimplementasikan tindakan. Jurnal tersebut dijadikan sebagai bahan refleksi diri bagi peneliti untuk mengungkap aspek:

  1. respon siswa terhadap penggunaan pendekatan pragmatik;
  2. situasi pembelajaran; dan
  3. kekurangpuasan peneliti terhadap pelaksanaan tindakan yang telah dilakukan. Selain peneliti, siswa juga membuat jurnal setiap kali mengikuti kegiatan pembelajaran yang digunakan untuk mengungkapkan:

(1) respon siswa (baik yang positif maupun negatif) terhadap penggunaan pendekatan pragmatik;

(2) metode pembelajaran yang disukai siswa; dan

(3) kemampuan peneliti dalam menciptakan pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.

6.6. Teknik Analisis Data

Data penelitian dianalisis dengan menggunakan teknik tabulasi data secara kuantitatif berdasarkan hasil tindakan yang dilaksanakan pada setiap siklus. Hasil tindakan pada setiap siklus dibandingkan dengan hasil tes awal untuk mengetahui persentase peningkatan keterampilan siswa kelas VII-A SMPN 1 abang karangasem, dalam menceritakan pengalaman yang mengesankan.

Pada setiap siklus dideskripsikan jumlah skor yang diperoleh semua siswa, daya serap, dan rata-rata skor untuk aspek kelancaran berbicara, ketepatan pilihan kata (diksi), struktur kalimat, kelogisan (penalaran), dan kontak mata. Selain itu, juga dideskripsikan jumlah skor, jumlah nilai, rata-rata nilai, dan tingkat daya serap, dan ketuntasan belajar siswa pada setiap siklus.

6.7. DAPTAR FUSTAKA

Alisjahbana ,st.takdir;1978 tata bahasa baru bahasa indinesia 1 jakarta,dian rakyat

Masinambouw,E.K.M.(ed);1980.kata majemuk- beberepa sumbangan pikiran :PSUL

Leeckgeoffrey;1976 semantik1. ultrechta nwerpen :het spectrum.

purnama sari,igusti; 2009. unsure-unsur pembentukan proposal  denpasar: unipersitas udayanac

Anttila ,raimon ;1972.anintroduction to historical and comparative linguistics.new york-london;the Macmillan co .


contoh RPP terbaru

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)
Nama Sekolah : SMA Negeri 1 Petang
Mata Pelajaran : Bahasa dan Sastra Indonesia
Kelas/Program : X
Semester : I (pertama)
Waktu : 2 x 45 menit
Pertemuan : 5(lima)

Standar Kompetensi
Memahami siaran atau cerita yang di sampaikan secara langsung melalui rekaman.
Kompetensi Dasar
Mengidentipikasi unsure sastra (intrinsic dan ekstrinsik) suatu cerita yang disampaikan secara langsung melalui rekaman.
Indikator
Mencatat unsure intrinsic yang terdapat dalam cerita.
Menyampaikan secara lisan yang di dengarnya.

Tujuan Pembelajaran
Setelah proses belajar mengajar berlangsung siswa dapat:
Memahami yang pengertian cerpen.
Memahami unsure-unsur cerpen
Memahami jenis-jenis unsure intrinsic cerpen
Materi Pembelajaran
Cerpen adalah suatu bentuk prosa naratif yang berbentuk piktif
sebuah karya sastra dibangun dengan dua unsur yaitu unsure intrinsic dan unsure ekstrinsik
Unsure intrinsik meliputi
Tokoh yaitu penokohan atau orang yang terlibat di dalam cerita itu. Dalam cerpen terdapat tiga watak tokok yaitu protagonist adalah tokoh baik ,antagonis tokok penentang /jahat,tirta gonis adalah tokoh netral.
Alur adalah jalan cerita .alur ada 3 yaitu alur maju alur mundur dan alur campuran ,alur maju yaitu menceritakan dari awal kejadian sampe akhir, sedangkan alur mundur yaitu kejadianya dulu di ceritakan namun alasanya belakangan alur campuran yaitu alur ceitanya terdapat kedua alur tadi yaitu antara alur mundur dengan alur maju.
Latar/setting dan pelataran adalah tempat suatu kejadian cerita meliputi: pangung dan property.
Tema adalah isi ceritanya mengambarkan tentang apa .
Amanat adalah pesan yang ingin disanpaikan kepada pendengar atau penbaca oleh pengarang lewat cerita itu.
Sudut pandang adalah peletakan posisi pengarang dalam cerita itu .sudut pandang meliputi sudut pandang orang ke 1,2dan ke3

Metode Pembelajaran
Metode Ceramah
Metode Tanya Jawab
Metode Penugasan
Langkah-langkah Pembelajaran
Pendahuluan (10 menit)
- Guru mengucapkan salam kepada siswa.
- Absen siswa
- Guru mengadakan apersepsi dengan cara bertanya kepada siswa siap yang pernah menulis puisi
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.
b. Kegiatan Inti (55 menit)
Eksplorasi

Guru menjelaskan pengertian cerpen
Guru menjelaskanmasing-masing dari unsure intrinsic cerpen .
Guru menjelaskan perbedaan drama dengan cerpen .

Elaborasi

Siswa mengidentifikasi unsure penokohan dari pengalan cerpen “ pulang”.
Siswa mencari perbedaan antara unsure intrinsic cerpen dengan karya sastra yang lainya
guru mengintruksikan hal-hal yang harus diperhatikan dalam menganalisis cerpen
Konfirmasi

Guru menegaskan pengertian cerpen
Guru menegaskan perbedaan drama dengan cerpen .
Guru menegaskan jenios-jenis unsure intrinsic yang membangun sebuah cerpen

Penutup (25 menit)
Guru mengadakan evaluasi dengan menulis puisi.
Alat atau sumber belajar
Alat
Power point
Sumber belajar
Buku Bahasa Indonesiaku Bahasa Negeriku 1,
Penilaian
Kognitif
Penilaian kognitif dinilai melalui tes tertulis. ( instrument terlampir)
Afektif
Keaktifan siswa dalam mengikuti pelajaran.
Psikomotor
Sikap siswa dalam mengikuti pelajaran.
Soal-soal evaluasi
Jelaskan yang dimaksuddengan cerpen!
Coba sebutkan unsure-unsure intrinsic cerpen !
Jelaskan perbedaan cerpen dengan drama!
Sebutkanpengertian amanat dari unsure intrinsic cerpen!
Sebutkan pengertian setting dari unsure intrinsic cerpen!
Kunci jawaban
Suatu bentuk prosa naratif yang bersifat piktif.
Tokoh,alur,setting,tema,amanat,sudut pandang,.
Apabila cerpen adalah suatu karya sastra yang bersipat narasi yang biasanya memerlukan seorang pembaca sedangkan drama karya sastra yang bersipat narasi namun berbentuk dialog dan biasaanya di pentaskan
Pesan yang ingin di sampaikan oleh pengarang kepada pembacanya..
Tempat suatu kejadian berlangsung.
Skor penilaian
Penilaian = (jumlah skor yang diperoleh)/5=100

Petang, 21 Agustus 2010
Mengetahui,
Kepala SMAN 1 Petang Guru Pamong

(I GUSTI PUTU SUYASA,S.S.Kar) (DRA. DSK NYOMAN RAI ASTINI)
NIP. 195506081483031013

Dosen Pembimbing Mahasiswa PPL

(IDA AYU AGUNG EKA SRIADI,M.Pd) (I NYOMAN ARTANA)
NIP. NIM. 2007.II.1 0025

sejarah pujanga baru

BAB I

PENDAHULUAN

I.1        Latar  Belakang Masalah

pada mulanya, punjangga baru adalah nama majalah sastra dan kebudayaan yang terbit antara tahu 1933 adanya pelarangan oleh perintah jepang setelah tentara jepang berkuasa di Indonesia.Adapun pengasuhnya atara lain Sultan Takdir Alisjahbana, Armein Pane, Amir Hamzah Dan Sanusi Pane. Jadi pujangga baru  bukanlah suatu konsepsi ataupun aliran. Namun demikian, orang-orang atau para pengarang yang asil karyanya pernah dimuat dalam majalah itu, di nilai memiliki bobot dan cita-cita kesenian yang baru dan mengarah ke depan.

Barang kali, hanya untuk memudahkan ingatan adanya angkatan baru itulah maka di pakai istilah angkatan pujangga baru, yang tak lain adalah orang-orang yang tulis-tulisanya pernah di muat di dalam masalah tersebut. Adapun majalah itu, diterbitkan oleh pustaka rakyat, uatu badan yang memang mempunyai perhtian terhadap masalah-masalah kesenian. Tetapi seperti telah disinggung di atas, pada jaman pendudukan jepang majalah pujangga baru ini dilarang pemerintah jepang dengan alasan karena kebarat-barat.

Namun setela Indonesia merdeka,  majalah ini di terbitkan lagi ( hidup 1948-1953), dengan pemimpin redaksi Sultan Takdir Aliscahbana dan beberapa tokoh-tokoh angkatan 45 seperti Asrul, Rivai Apin Dan S. Rukiah. Mengingat masa hidup pujangga baru (1) itu antara tahun 1933 sampai dengan zaman jepang, maka diperkirakan para pnyumbang karangan itu paling tahun 1915-an dan sebelumnya.

Dengan demikian, boleh dikatakan generasi pujangga baru adalah generasi lama. Sedangkan angkatan 45 yang kemudian menyusulnya, merupakan angkatan baru yang jauh lebih bebas dcalam mengekspresikan gagasan-gagasan dan kata hatinya.

I.2 Rumusan Masalah

1.2.1    bagaimana sejarah Pujangga baru?

1.2.2    Apa pengertian tentang Pujangga baru?

1.2.3    Siapa saja tokoh Pujangga Baru?

I.3 Tujuan

Tujuan yang ingin di capai dalam makalah ini di antaranya yaitu :

  1. Untuk mengetahui tentang sejarah dari Pujangga Baru.
  2. Untuk memahami tentang Pujangga Baru.
  3. Untuk mengetahui contoh-contoh karya Pujangga Baru.
  4. Untuk mengetahui tokoh-tokoh siapa saja yang termasuk angkatan Pujangga Baru.

BAB II

PEMBAHASAAN

II.1      Sejarah singkat tentang Pujangga Baru

Pada mulanya, Pujangga baru adalah nama majalah sastra dan kebudayaan yang terbit antara tahun 1933 sampai dengan adanya pelarangan oleh pemerintah Jepang setelah tentara Jepang berkuasa di Indonesia.

Adapun pengasuhnya antara lain Sultan Takdir Alisjahbana, Armein Pane , Amir Hamzah dan Sanusi Pane. Jadi Pujangga Baru bukanlah suatu konsepsi ataupun aliran. Namun demikian, orang-orang atau para pengarang yang hasil karyanya pernah dimuat dalam majalah itu, dinilai memiliki bobot dan cita-cita kesenian yang baru dan mengarah kedepan.

Barangkali, hanya untuk memudahkan ingatan adanya angkatan baru itulah maka dipakai istilah Angkatan Pujangga Baru, yang tak lain adalah orang-orang yang tulisan-tulisannya pernah dimuat didalam majalah tersebut. Adapun majalah itu, diterbitkan oleh Pustaka Rakyat, Suatu badan yang memang mempunyai perhatian terhadap masalah-masalah kesenian. Tetapi seperti telah disinggung diatas, pada zaman pendudukan Jepang majalah Pujangga Baru ini dilarang oleh pemerintah Jepang dengan alasan karena kebarat-baratan.

Namun setelah Indonesia merdeka, majalah ini diterbitkan lagi (hidup 1948 s/d 1953), dengan pemimpin Redaksi Sutan Takdir Alisjahbana dan beberapa tokohtokoh angkatan 45 seperti Asrul Sani, Rivai Apin dan S. Rukiah.

Mengingat masa hidup Pujangga Baru ( I ) itu antara tahun 1933 sampai dengan zaman Jepang , maka diperkirakan para penyumbang karangan itu paling tidak kelahiran tahun 1915-an dan sebelumnya. Dengan demikian, boleh dikatan generasi Pujangga Baru adalah generasi lama. Sedangkan angkatan 45 yang kemudian menyusulnya, merupakan angkatan bar yang jauh lebih bebas dalam mengekspresikan gagasan-gagasan dan kata hatinya.

Pujangga Baru muncul sebagai reaksi atas banyaknya sensor yang dilakukan oleh Balai Pustaka terhadap karya tulis sastrawan pada masa tersebut, terutama terhadap karya sastra yang menyangkut rasa nasionalisme dan kesadaran kebangsaan. Sastra Pujangga Baru adalah sastra intelektual, nasionalistik dan elitis.

Pada masa itu, terbit pula majalah Pujangga Baru yang dipimpin oleh Sutan Takdir Alisjahbana, beserta Amir Hamzah dan Armijn Pane. Karya sastra di Indonesia setelah zaman Balai Pustaka (tahun 1930 – 1942), dipelopori oleh Sutan Takdir Alisyahbana dkk. Masa ini ada dua kelompok sastrawan Pujangga baru yaitu :

  1. Kelompok “Seni untuk Seni” yang dimotori oleh Sanusi Pane dan Tengku Amir Hamzah
  2. Kelompok “Seni untuk Pembangunan Masyarakat” yang dimotori oleh Sutan Takdir Alisjahbana, Armijn Pane dan Rustam Effendi.

Pujangga Baru muncul sebagai reaksi atas banyaknya sensor yang dilakukan oleh Balai Pustaka terhadap karya tulis sastrawan pada masa tersebut, terutama terhadap karya sastra yang menyangkut rasa nasionalisme dan kesadaran kebangsaan. Sastra Pujangga Baru adalah sastra intelektual, nasionalistik dan elitis menjadi “bapak” sastra modern Indonesia. Pada masa itu, terbit pula majalah “Poedjangga Baroe” yang dipimpin oleh Sutan Takdir Alisjahbana, Amir Hamzah dan Armijn Pane. Karya sastra di Indonesia setelah zaman Balai Pustaka (tahun 1930 – 1942), dipelopori oleh Sutan Takdir Alisyahbana dkk. Masa ini ada dua kelompok sastrawan Pujangga baru yaitu 1. Kelompok “Seni untuk Seni” yang dimotori oleh Sanusi Pane dan Tengku Amir Hamzah dan; 2. Kelompok “Seni untuk Pembangunan Masyarakat” yang dimotori oleh Sutan Takdir Alisjahbana, Armijn Pane dan Rustam Effendi.
Karyasastera· Layar Terkembang oleh Sutan Takdir Alisjahbana · Tebaran Mega · Belenggu oleh Armijn Pane · Jiwa Berjiwa · Gamelan Jiwa · Jinak-jinak Merpati · Kisah Antara Manusia · Nyanyian Sunyi oleh Tengku Amir Hamzah · Buah Rindu · Pancaran Cinta oleh Sanusi Pane · Puspa Mega · Madah Kelana · Sandhyakala ning Majapahit · Kertajaya · Tanah Air oleh Muhammad Yamin · Indonesia Tumpah Darahku · Ken Angrok dan Ken Dedes · Kalau Dewi Tara Telah Berkata · Percikan Permenungan oleh Rustam Effendi · Bebasari · Kalau Tak Untung oleh Sariamin · Pengaruh Keadaan · Rindu Dendam oleh J.E.Tatengkeng.

II.2 Karya- karya Pujangga Baru

Puisi Pujangga Baru: Konsep Estetik, Orientasi dan Strukturnya Oleh: Rachmat Djoko Pradopo, Prof., Dr Artikel di Jurnal Humaniora Volume XIII, No. 1/2001

Puisi Pujangga Baru adalah awal puisi Indonesia modern. Untuk memahami puisi Indonesia modern sesudahnya dan puisi Indonesia secara keseluruhan, penelitian puisi Pujangga Baru penting dilakukan. Hal ini disebabkan karya sastra, termasuk puisi, tidak lahir dalam kekosongan budaya (Teeuw, 1980:11), termasuk karya sastra. Di samping itu, karya sastra itu merupakan response (jawaban) terhadap karya sastra sebelumnya (Riffaterre viaTeeuw,1983:65).

Karya sastra, termasuk puisi, dicipta sastrawan. Sastrawan sebagai anggota masyarakat tidak terlepas dari latar sosial–budaya dan kesejarahan masyarakatnya. Begitu juga, penyair Pujangga Baru tidak lepas dari latar sosial-budaya dan kesejarahan bangsa Indonesia. Puisi Pujangga Baru (1920-1942) itu lahir dan berkembang pada saat bangsa Indonesia menuntut kemerdekaan dari penjajahan Belanda. Oleh karena itu, perlu diteliti wujud perjuangannya, di samping wujud latar sosial-budayanya.

Untuk memahami puisi secara mendalam, juga puisi Pujangga Baru, perlu diteliti secara ilmiah keseluruhan puisi itu, baik secara struktur estetik maupun muatan yang terkandung di dalamnya. Akan tetapi, sampai sekarang belum ada penelitian puisi Pujangga Baru yang tuntas, sistematik, dan mendalam. Sifatnya penelitian yang sudah ada itu impresionistik, yaitu penelaahan hanya mengenai pokok-pokoknya, tanpa analisis yang terperinci, serta diuraikan secara ringkas.

Puisi merupakan struktur yang kompleks. Oleh karena itu, dalam penelitian puisi Pujangga Baru digunakan teori dan metode struktural semiotik. Kesusastraan merupakan struktur ketandaan yang bermakna dan kompleks, antarunsurnya terjadi hubungan yang erat (koheren). Tiap unsur karya sastra mempunyai makna dalam hubungannya dengan unsur lain dalam struktur itu dan keseluruhannya (Hawkes, 1978: 17—18). Akan tetapi, strukturalisme murni yang hanya terbatas pada struktur dalam (inner structure) karya sastra itu mengasingkan relevansi kesejarahannya dan sosial budayanya (Teeuw, 1983: 61). Oleh karena itu, untuk dapat memahami puisi dengan baik serta untuk mendapatkan makna yang lebih penuh, dalam menganalisis sajak dipergunakan strukturalisme dinamik (Teeuw, 1983: 62), yaitu analisis struktural dalam kerangka semiotik. Karya sastra sebagai tanda terikat kepada konvensi masyarakatnya. Oleh karena itu, karya sastra tidak terlepas dari jalinan sejarah dan latar sosial budaya masyarakat yang menghasilkannya, seperti telah terurai di atas.

Di samping itu, untuk memahami struktur puisi Pujangga Baru, perlu juga diketahui struktur puisi sebelumnya, yaitu puisi Melayu lama yang direspons oleh puisi Pujangga Baru.

Buku Sejarah Sastra Indonesia Modern Jilid 1 karya Bakri Siregar (1964) memperlihatkan bahwa subjektivitas penulis sejarah—termasuk sejarah sastra Indonesia—senantiasa tampak dalam buku yang dihasilkannya.

Bakri Siregar merupakan pimpinan pusat Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang juga menjabat sebagai Ketua Akademi Sastra dan Bahasa “Multatuli” Jakarta dan Guru Besar Sastra Indonesia Modern di Universitas Peking. Pascaperistiwa G30S 1965, Bakri Siregar termasuk sastrawan Lekra yang ditahan tanpa diadili dan baru dibebaskan pada 1977.

Menyusul penahanannya adalah dilarangnya buku sejarah yang ditulisnya itu. Hingga kini, tidak akan ada buku Sejarah Sastra Indonesia Modern Jilid 2 dari sang penulis, karena Bakri Siregar telah meninggal pada 19 Juni 1994. Buku Sejarah Sastra Indonesia Modern Jilid 1 ini berisi masa awal sastra Indonesia, masa Balai Pustaka, hingga masa Pujangga Baru (1930-an).

Sebenarnya topik pembicaraan belum masuk periode 1960-an, namun dalam pengantarnya Bakri Siregar telah menyinggung konsep kesenian Lekra dan sastrawan Manifes Kebudayaan (Manikebu). Mengenai cakupan khazanah sastra Indonesia, saya sangat sependapat dengan Bakri Siregar. Bahwa pengertian sastra Indonesia itu mencakup naskah-naskah Melayu di Indonesia hingga akhir abad ke-19.

Dalam bahasa A Teeuw, karya sastra semacam ini dinamakan “sastra di Indonesia”. Bakri Siregar juga memasukkan karya sastra yang berbahasa Melayu Tionghoa ke dalam khazanah sastra Indonesia. Hanya saja, saat ia menulis buku Sejarah Sastra Indonesia Modern Jilid 1, ia merasa kesulitan mendapatkan bahan-bahan itu.

Zuber Usman (dalam Siregar, 1964), mengatakan bahwa Abdullah bin Abdulkadir Munsji yang hidup di abad ke-19 merupakan penutup zaman lama dan Abdullah dapat diumpamakan sebagai cahaya fajar zaman baru yang mulai menyingsingkan sinarnya di ufuk zaman itu.

Tampaknya Bakri Siregar enggan memasukkan Abdullah sebagai tokoh awal sastra Indonesia modern karena setelah membaca memoarnya, Hikayat Abdullah, Bakri Siregar menilai sikap Abdullah yang dalam batas tertentu mempunyai segi positif dalam mengkritik kaum bangsawan Melayu dan praktik onar para raja, tapi di sisi lain Abdullah terlalu memuji dan kagum pada penjajah Inggris dengan menamakan mereka tokoh-tokoh kemanusiaan yang ikhlas dan bijaksana.

Sikap seperti itu, menurut Bakri Siregar, sebagai kompleks rasa rendah diri yang terlalu besar pada diri Abdullah dalam menghadapi orang kulit putih, hingga praktis merendahkan bangsanya dan bangsa-bangsa lain di Asia.

Menurut Bakri Siregar ada tiga sastrawan yang menjadi tokoh awal sastra Indonesia modern. Mereka adalah Mas Marco Kartodikromo, Semaun, dan Rustam Effendi. Karya-karya Mas Marco Kartodikromo, baik dalam bahasa Jawa maupun dalam bahasa Indonesia secara tegas pertama kali melemparkan kritik terhadap pemerintah jajahan serta kalangan feodal.

Dua karya Mas Marco yang menonjol adalah Student Hidjo (1919) dan Rasa Merdeka (1924). Karena isinya berupa kritik terhadap imperialisme Belanda dan antifeodalisme, karya-karya Mas Marco dilarang pemerintah kolonial Belanda. Sebagai sastrawan dan juga wartawan yang revolusioner, Mas Marco sering keluar masuk penjara, dan meninggal di tanah pembuangan Digul.

Semaun menghasilkan novel Hikayat Kadirun pada 1924. Dalam novel tersebut, Semaun membayangkan kehidupan dalam masyarakat masa depan yang lebih baik dari keadaannya saat itu. Masyarakat masa itu yang digambarkan adalah masyarakat yang berada dalam belenggu penjajahan. Dengan demikian, apa yang dianggap baik di hari depan oleh penulis, dianggap musuh oleh penjajah. Pada 1932, Semaun menyumbangkan artikel dalam Ensiklopedi Kesusastraan yang terbit di Moskow.

Semaun antara lain menulis, “Hikayat Kadirun didasarkan untuk melawan rezim penjajah Belanda. Roman ini disita dan setelah pemberontakan tahun 1926/1927 dipandang sebagai buah ciptaan kesusastraan di bawah tanah. Oplah sastra revolusioner sangat terbatas, tidak lebih dari 1.500-2.000 buah. Buku-buku itu dicetak di percetakan Partai Komunis dan serikat buruh.” (Siregar, 1964).

Rustam Effendi menulis lakon Bebasari pada 1926. Lakon ini berisi sindiran terhadap penjajah dan menggelorakan semangat pemuda dan rakyat. Simbol-simbol wayang digunakan Rustam Effendi untuk mengkritik penguasa. Rahwana, misalnya, melambangkan sifat bengis kaum penjajah. Sementara Bebasari melambangkan cita-cita kemerdekaan. Bebasari mengatakan di akhir lakon, “Asmara sayap usaha yang tinggi/ Asmara kepada bangsa sendiri.”

Ketiga tokoh awal mula sastra Indonesia versi Bakri Siregar itu mendapat kendala di zaman Belanda. Karya-karya ketiga sastrawan revolusioner itu dilarang oleh Belanda. Bahkan Kepala Balai Pustaka A Rinkes menyebut karya mereka sebagai bacaan liar.

Dalam buku Sejarah Sastra Indonesia Modern Jilid 1 itu, Bakri Siregar juga menjelaskan adanya beberapa pengaruh dari luar terhadap perkembangan sastra Indonesia modern. Pertama, pengaruh Hindu dan Islam, yang mempengaruhi awal-awal perkembangan sastra Indonesia. Dalam artikel “Dua Kiblat dalam Sastra Indonesia” (Sambodja, 2005).

Hal ini terlihat dari naskah-naskah berbahasa Melayu dan naskah-naskah berbahasa Jawa Kuno. Kedua, sikap revolusioner yang muncul dalam karya-karya sastra Indonesia awal itu merupakan pengaruh dari Uni Soviet dan Tiongkok; antara lain melalui karya Maxim Gorki, tokoh realisme sosialis, dan Lu Hsun, pelopor sastra Tiongkok modern.

Ketiga, pengaruh dari Barat, terutama Belanda, yakni komunitas De Tachtigers yang menginspirasi sastrawan-sastrawan Pujangga Baru. Sastrawan Eduard du Perron dan Hendrik Marsman sangat mempengaruhi perkembangan kepenyairan Chairil Anwar. Multatuli alias Eduard Douwes Dekker (1860) yang menulis buku Max Havelaar juga mempengaruhi sastrawan revolusioner Indonesia. “Kalau bukuku diperhatikan dengan baik, dan disambut dengan baik, maka tiap sambutan baik akan menjadi kawanku menentang pemerintah,” tulis Multatuli.

Bagaimana dengan Manikebu? Bakri Siregar mengatakan, “Dalam meniadakan dan membendung semangat revolusi, mereka mengemukakan konsepsi humanisme universal, sejalan dengan usaha neokolonialisme dalam mempertahankan kepentingan di Indonesia, menganjurkan eksistensialisme (‘filsafat iseng’ dan ‘filsafat takut’), serta memupuk individualisme dan pesimisme, menjadikan sastrawan dan seniman kosmopolit dan antipatriotik, tanpa menyatukan diri dengan perjuangan bangsanya.” (Siregar, 1964: 13-14).

II.3  Angkatan Pujangga Baru

  • Angkatan Pujangga Baru muncul sebagai reaksi atas banyaknya sensor yang dilakukan oleh Balai Pustaka terhadap karya tulis sastrawan pada masa tersebut, terutama terhadap karya sastra yang menyangkut rasa nasionalisme dan kesadaran kebangsaan.
  • Sastra Pujangga Baru adalah sastra intelektual, nasionalistik dan elitis menjadi bapak  sastra modern Indonesia.
  • Angkatan Pujangga Baru (1930-1942) dilatarbelakangi oleh kejadian bersejarah “Sumpah Pemuda” pada 28 Oktober 1928.
  • Ikrar Sumpah Pemuda 1928:
    • Pertama Kami poetera dan poeteri indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
    • Kedoea Kami poetera dan poeteri indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
    • Ketiga Kami poetera dan poeteri indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.
  • Melihat latar belakang sejarah pada masa Angkatan Pujangga Baru, tampak Angkatan Pujangga Baru ingin menyampaikan semangat persatuan dan kesatuan Indonesia, dalam satu bahasa yaitu bahasa Indonesia.
  • Pada masa ini, terbit pula majalah Poedjangga Baroe yang dipimpin oleh Sutan Takdir Alisjahbana, Amir Hamzah dan Armijn Pane.
  • Pada masa Angkatan Pujangga Baru, ada dua kelompok sastrawan Pujangga baru yaitu:
    • Kelompok “Seni untuk Seni”
    • Kelompok “Seni untuk Pembangunan Masyarakat”
  • Ciri-ciri sastra pada masa Angkatan Pujangga Baru antara lain sbb:
    • Sudah menggunakan bahasa Indonesia
    • Menceritakan kehidupan masyarakat kota, persoalan intelektual, emansipasi (struktur cerita/konflik sudah berkembang)
    • Pengaruh barat mulai masuk dan berupaya melahirkan budaya nasional
    • Menonjolkan nasionalisme, romantisme, individualisme, intelektualisme, dan materialisme.
  • Salah satu karya sastra terkenal dari Angkatan Pujangga Baru adalah Layar Terkembang karangan Sutan Takdir Alisjahbana.
  • Layar Terkembang merupakan kisah roman antara 3 muda-mudi; Yusuf, Maria, dan Tuti.
    • Yusuf adalah seseorang mahasiswa kedokteran tingkat akhir yang menghargai wanita.
    • Maria adalah seorang mahasiswi periang, senang akan pakaian bagus, dan memandang kehidupan dengan penuh kebahagian.
    • Tuti adalah guru dan juga seorang gadis pemikir yang berbicara seperlunya saja, aktif dalam perkumpulan dan memperjuangkan kemajuan wanita.
  • Dalam kisah Layar Terkembang, Sutan Takdir Alisjahbana ingin menyampaikan beberapa hal yaitu:
    • Perempuan harus memiliki pengetahuan yang luas sehingga dapat memberikan pengaruh yang sangat besar didalam kehidupan berbangsa dan bernegara dengan demikian perempuan dapat lebih dihargai kedudukannya di masyarakat.
    • Masalah yang datang harus dihadapi bukan dihindarkan dengan mencari pelarian. Seperti perkawinan yang digunakan untuk pelarian mencari perlindungan, belas kasihan dan pelarian dari rasa kesepian atau demi status budaya sosial.
  • Selain Layar Terkembang, Sutan Takdir Alisjahbana juga membuat sebuah puisi yang berjudul “Menuju ke Laut”.
  • Puisi “Menuju ke Laut” karya Sutan Takdir Alisjahbana ini menggunakan laut untuk mengungkapkan h ubungan antara manusia, alam, dan Tuhan.
  • Ada pula seorang sastrawan Pujangga Baru lainnya, Sanusi Pane yang menggunakan laut sebagai sarana untuk mengungkapkan hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan.
  • Karya Sanusi Pane ini tertuang dalam bentuk puisi yang berjudul “ Dalam Gelombang”.
  • Ditinjau dari segi struktural, ada persamaan struktur antara puisi Sutan Takdir Alisjahbana dan Sanusi Pane yaitu pengulangan bait pertama pada bait terakhir.
  • Sementara itu, ditinjau dari segi isi, tampak ada perbedaan penggambaran laut dalam puisi Sutan Takdir Alisjahbana dan Sanusi Pane.
  • Jika Sutan Takdir Alisjahbana menggambarkan laut sebagai sebuah medan perjuangan, Sanusi Pane menggambarkan laut sebagai suatu tempat yang penuh ketenangan.

·  Contoh Puisi Angkatan Pujangga Baru

  • Kami telah meninggalkan engkau,
  • Tasik yang tenang tiada beriak,
  • diteduhi gunung yang rimbun,
  • dari angin dan topan.
  • Sebab sekali kami terbangun,
  • dari mimpi yang nikmat.
  • Ombak riak berkejar-kejaran
  • di gelanggang biru di tepi langit.
  • Pasir rata berulang di kecup,
  • tebing curam ditentang diserang,
  • dalam bergurau bersama angin,
  • dalam berlomba bersama mega.

… Aku bernyanyi dengan suara Seperti bisikan angin di daun Suaraku hilang dalam udara Dalam laut yang beralun-alun Alun membawa bidukku perlahan Dalam kesunyian malam waktu Tidak berpawang tidak berkawan Entah kemana aku tak tahu Menuju ke Laut Oleh Sutan Takdir Alisjahbana Dibawa Gelombang . Oleh Sanusi Pane

  • Amir Hamzah diberi gelar sebagai “Raja Penyair” karena mampu menjembatani tradisi puisi Melayu yang ketat dengan bahasa Indonesia yang sedang berkembang. Dengan susah payah dan tak selalu berhasil, dia cukup berhasil menarik keluar puisi Melayu dari puri-puri Istana Melayu menuju ruang baru yang lebih terbuka yaitu bahasa Indonesia, yang menjadi alasdasar dari Indonesia yang sedang dibayangkan bersama.

Selain Sutan Takdir Alisjahbana, ada pula tokoh lain yang terkenal dari Angkatan Pujangga Baru sebagai “Raja Penyair” yaitu Tengku Amir Hamzah .

·  Sastrawan dan Hasil Karya

  • Sastrawan pada Angkatan Pujangga Baru beserta hasil karyanya antara lain sbb:
    • Sultan Takdir Alisjahbana
      • Contoh: Di Kakimu, Bertemu
    • Sutomo Djauhar Arifin
      • Contoh: Andang Teruna (fragmen)
    • Rustam Effendi
      • Contoh: Bunda dan Anak, Lagu Waktu Kecil
    • Asmoro Hadi
      • Contoh: Rindu, Hidup Baru
    • Hamidah
      • Contoh: Berpisah, Kehilangan Mestika (fragmen)

·  Sastrawan dan Hasil Karya

    • Amir Hamzah
      • Contoh: Sunyi, Dalam Matamu
    • Hasjmy
      • Contoh: Ladang Petani, Sawah
    • Lalanang
      • Contoh: Bunga Jelita
    • O.R. Mandank
      • Contoh: Bagaimana Sebab Aku Terdiam
    • Mozasa
      • Contoh: Amanat, Kupu-kupu

BAB III

PENUTUP

III.1 Kesimpulan

Punjangga Baru merupakan nama majalah sastra dan kebudayaan yang terbit antara tahu 1933 adanya pelarangan oleh perintah jepang setelah tentara jepang berkuasa di Indonesia.Adapun pengasuhnya atara lain Sultan Takdir Alisjahbana, Armein Pane, Amir Hamzah Dan Sanusi Pane. Jadi pujangga baru  bukanlah suatu konsepsi ataupun aliran. Namun demikian, orang-orang atau para pengarang yang asil karyanya pernah dimuat dalam majalah itu, di nilai memiliki bobot dan cita-cita kesenian yang baru dan mengarah ke depan. Angkatan Pujangga Baru muncul sebagai reaksi atas banyaknya sensor yang dilakukan oleh Balai Pustaka terhadap karya tulis sastrawan pada masa tersebut, terutama terhadap karya sastra yang menyangkut rasa nasionalisme dan kesadaran kebangsaan.

III.2 Saran

Diharapkan paper ini dapat bermanfaat bagi kita semua khususnya para calon guru atau calon pendidik agar menjadi pendidik yang professional. Dan sebagai Mahasiswa jurusan bahasa indonsia, kita juga perlu memahami tengtan puisi, yaitu Pujangga Baru maupun tentang angkatan sastra yang lainya. Karena kita sebagai calon guru bahasa Indonsia akan mengajarkan anak didik tentang sastra dan pelajaran Bahasa Indonesia yang lainya.

DAFTAR PUSTAKA

-          Internet, www. Google. Com. Pujangga Baru Sastra

DAFTAR ISI

Kata Pengantar…………………………………………………………………       i

Daftar Isi         …………………………………………………………………        ii

BAB I             PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang……………………………………………          1

1.2  Rumusan Masalah…………………………………………         1

1.3  Tujuan…………………………………………………….          2

BAB II            PEMBAHASAN

2.1 Sejarah singkat tentang Pujangga Baru……………………        3

2.2 Karya-karya Pujangga Baru……………………………….         5

2.3 Angkatan Pujangga baru……………………………..……         9

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan……………………………………………….          15

3.2 Saran……………………………………………………..           15

DAFTTAR PUSTAKA

cara mudah deketin cewek

apabila mau deket cewek maka kamu harus bersabar

cara mudah dekerin cewek

yang pertama anda harus perkenalkan diri anda lalu tanyakan tempat tinngalnya haaaa

« Entri lama

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.